Trending Indonesian Journalist Interviews an Empty Chair

October 05th, 2020

Interviewing an empty chair with a nonexistent guest can be both funny and frustrating to watch, but this Indonesian journalist seemed not to mind it at all, after firing questions fiercely despite the absent guest.

Journalist Najwa Shihab interviewed an empty chair which is supposedly Indonesia’s health minister Dr.Terawan Agus Putranto.

The absent health minister was repeatedly invited to the popular political show, MataNajwa, which means the “eyes of Najwa,” but kept declining the invitation. According to an official, this is due to his very busy schedule, but others are not convinced.

 

View this post on Instagram

 

Teman-teman, cukup banyak alasan mengapa diperlukan kehadiran pejabat negara untuk menjelaskan kebijakan yang berimbas kepada publik. Mengundang dan/atau meminta pejabat untuk menjelaskan kebijakan yang diambilnya adalah tindakan normal di alam demokrasi. Jika tindakan itu dianggap politis, penjelasannya tidak terlalu sulit. Pertama, jika “politik” diterjemahkan sebagai adanya motif dalam tindakan, maka undangan untuk Pak Terawan memang politis. Namun tak selalu yang politik terkait dengan partai atau distribusi kekuasaan. Politik juga berkait dengan bagaimana kekuasaan berdampak kepada publik. Kami tentu punya posisi berbeda dengan partai karena fungsi media salah satunya mengawal agar proses politik berpihak kepada kepentingan publik. Kedua, setiap pengambilan kebijakan diasumsikan adalah solusi atas problem kepublikan. Siapa pun bisa mengusulkan solusi, namun agar bisa berdampak ia mesti diambil sebagai kebijakan oleh pejabat yang berwenang, dan mereka pula yang punya kekuasaan mengeksekusinya. Menteri adalah eksekutif tertinggi setelah presiden, dialah yang menentukan solusi mana yang diambil sekaligus ia pula yang mengeksekusinya. Ketiga, tak ada yang lebih otoritatif selain menteri untuk membahasakan kebijakan-kebijakan itu kepada publik, termasuk soal penanganan pandemi. Selama ini, penanganan pandemi terkesan terfragmentasi, tersebar ke berbagai institusi yang bersifat ad-hoc, sehingga informasinya terasa centang perenang. Kami menyediakan ruang untuk membahasakan kebijakan penanganan pandemi ini agar bisa disampaikan dengan padu. Bedanya, media memang bukan tempat sosialisasi yang bersifat satu arah, melainkan mendiskusikannya secara terbuka. Keempat, warga negara wajib patuh kepada hukum, tapi warga negara juga punya hak untuk mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh negara. Warga boleh mengajukan kritiik dalam berbagai bentuk, bisa dukungan, usulan, bahkan keberatan. Padu padan dukungan, usulan, atau keberatan itu tak ubahnya vitamin yang — kadang rasanya dominan pahit tapi kadang juga manis — niscaya menyehatkan jika disikapi sebagai proses bersama. #MataNajwaMenantiTerawan #CatatanNajwa

A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab) on Sep 28, 2020 at 2:27am PDT

The health minister has received criticisms on his performance in handling the COVID-19 infections in Indonesia, as the country is currently among Southeast Asian countries with the highest cases of COVID-19, where the virus has infected more than 280,000.

She asked questions that echo the public’s sentiments and concerns—from addressing the government’s lack of transparency, to why did he disappear? 

But all of her questions are left unanswered on that day. The empty chair represented the lack of communication and assurance in the pandemic cases rising in the country. Najwa stated in a local news that she is urging the health minister to step down. And to be more accountable for his position.

 The interview video made rounds on the social media when it got published on Instagram. Najwa has over 14 million followers on the social media platform. 

After the video, a hashtag #MataNajwaMenantiTerawan which means #MataNajwaisWaitingForTerawan became a trending topic.

See tweets here.

POP! Creator Community / Nicole Valdez

INQPOP! Stories we think you might also like: